Nov 042012
 

Sejarah kesultanan Banten

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.

Kemudian anak dari Sunan Gunung Jati yaitu Sultan Maulana Hasanudin menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

 

Puncak kejayaan

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

 

Masa kekuasaan Sultan Haji

Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.

 

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1692) adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

Daftar pemimpin Kesultanan Banten

 

  • Sunan Gunung Jati
  • Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570
  • Maulana Yusuf 1570 – 1580
  • Maulana Muhammad 1585 – 1590
  • Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.)
  • Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650
  • Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
  • Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687
  • Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
  • Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
  • Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
  • Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
  • Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
  • Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
  • Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
  • Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
  • Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
  • Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
  • Aliyuddin II (1803-1808)
  • Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
  • Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
  • Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

 

Sejarah Banten Lama

Kota Banten Lama banyak terdapat jejak sejarah, mulai dari Masjid Banten, Benteng Spellwijk , Keraton Kaibon, Pecinan Banten Lama, Tasikardi, Pasar dan Pelabuhan Karangantu, hingga Keraton Surosowan.

Bahkan struktur kotan Banten Lama sudah mengenal daerah pecinan yang terdapat Masjid Pecinan Tinggi, masih dapat ditemui bangunan rumah di daerah pecinan. Ini menggambarkan betapa majunya Banten Lama pada masa itu.
Keraton Surosowan mudah ditemui karena lokasiny dekat Masjid Banten. Keraton ini dibangun pada tahun 1552 dan pernah rusak karena diserang Belanda pada tahun 1680. Tetapi dihancurkan kembali oleh Belanda pada tahun 1813.
Keraton ini dikelilingi oleh benteng, maka dikenal pula dengan sebutan Benteng Surosowan. Lebih tepatnya disebut kawasan Benteng Surosowan, karena di dekatnya terdapat Keraton Surosowan, alun alun, Masjid Banten,dan  jalur transportasi air.

Keraton Surosowan

Keraton Surosawan adalah sebuah keraton di Banten. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna . Dinding pembatas setinggi 2 meter mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektar. Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.

Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa sebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

 

Jembatan Rante

Yang tidak kalah menarik adalah Jembatan Rante di sebelah utara dari benteng surosowan. Jembatan ini dibangun di atas anak sungai Kota Banten Lama, yang berfungsi sebagai “tol perpajakan” perahu pengangku barang dagangan pedagang asing yang masuk kota kerajaan. Ini mencerminkan betapa sudah majunya ekonomi dan politik kerajaan Banten pada masa itu. Dengan pajak yang masuk, Maulana Yusuf sudah banyak membangun fasilitas kota.
Jembatan Rante dibangun dengan dua buah tiang kokoh dari material bata dan karang di kedua sisinya. Bila tidak kapal yang masuk maka jembatan digunakan untuk menyeberang orang dan kendaraan darat, tetapi bila ada kapal yang merapat, maka jembatan dari papan itu diangkat menggunakan rantai, maka disebut jembatan rante.
Jejak arsitekturnya masih dapat dilihat, meskipun sudah tidak ada rantai dan papannya lagi. Dua tiang berukuran jumbo masih ada disana. Anak sungai pun masih ada, meskipun sekarang tidak digunakan lagi. Di sekitar anak sungai sudah banyak dibangun rumah penduduk.

 

Tasikardi

Yang tidak kalah memukaunya adalah Tasikardi. Danau buatan yang luas berfungsi menampung air dari sungai Cibanten dilengkapi dengan sebuah pulau kecil di tengahnya. Tasikardi ini digunakan sebagai reservoir air ke  Keraton Surosowan dan keperluan air penduduk Banten Lama termasuk irigasi sawah.
Saluran air dari Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowan salah satunya untuk kolam pemandian Sultan Rara Denok dan Pancuran Mas. Bisa dibayangkan jarak Tasikardi dengan Keraton Surosowan kurang lebih sepanjang dua kilometer sebelah tenggara, itu bukanlah jarak yang pendek.
Kalau Anda berjalan menuju Tasikardi dari istana surosowan, masih terlihat hamparan sawah yang menghijau tumbuh subur, tentunya sistem pengairan yang baik. Teknik penyaluran air khas buatan Lucasz Cardeel dengan melalui pengindelan (filter station) arang, kuning dan mas.
Air dari Tasikardi langsung masuk ke lingkungan keraton dengan teknik penyaringan yang sudah baik. Dalam penyaluran air bersih digunakan pipa terrakota besar dan kecil (dari garis tengah 2-40 cm), dan diairkan langsung ke kran-kran logam pancuran mas.

Untuk penjernihan air yang nanti digunakan sebagai air bersih bagi penduduk kota dan keraton, digunakan cara penyaringan dengan teknik pengendapan dan poriositas batuan, pasir dan ijuk. Sistem inilah yang terjadi di Banten Lama, teknologi lama masih dapat digunakan sampai saat ini.

 Leave a Reply

(required)

(required)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>